Aksi Unik Si Seniman Nyentrik
Bukan Sujiwo Tejo namanya kalau tidak menyajikan suguhan unik, etnik, nyentrik, dan nyeleneh dalam aksi panggungnya. Pengunjung Jakarta International Djarum Super Mild Java Jazz Festival 2012 yang menonton aksi panggungnya, Minggu, (4/3) dihibur dengan suguhan pertunjukkan yang menggabungkan jazz dengan musik traditional ala Sujiwo Tejo.
Pukul tiga sore, alunan musik tradisional berbunyi. Tak lama kemudian, muncul sosok Sujiwo dengan dandanannya yang nyentrik: berkaos putih, berjaket kulit hitam, bersarung kain batik, serta tak ketinggalan topi koboi yang menjadi ciri khasnya. Ia ditemani musisi Jazz Bintang Indrianto sebagai bassist, Saad Borneo sebagai peniup suling, tiga orang penyanyi latar yang berkebaya khas sinden, pemain gendang, dan musisi lainnya.
Sujiwo Tejo menyanyikan lagu-lagu lawas dan baru miliknya. Diantaranya 'Zaman Edane' yang bernuansa samba campur rock dan keroncong, 'Tanah Makam Cintaku' yang berpola swing dan dipadukan dengan gendang Jawa untuk rhythm, 'Bumi Gunjang-ganjing' yang diisi dengan pembacaan puisi berbahasa cina serta Jawa, dan 'Ole Olang' yang ditulis dengan lirik ljenaka sehingga memancing tawa penonton.
Menurut seniman multi dimensi ini, ia lebih suka menggunakan bahasa kuno dalam lirik lagunya.
"Bahasa yang digunakan dalam lagu-lagu saya biasanya berupa bahasa Jawa kuno atau bahasa Madura kuno karena bunyinya lebih musikal dan enak didengar," paparnya sambil mepraktekkan bernyanyi dengan bahasa Jawa kuno.
Tak hanya berolah vokal, Sujiwo juga menunjukkan kemahirannya memainkan instrumen tiup yang terasosiasi dengan jazz, saksofon dan trumpet. Ia juga bernyanyi sambil berdalang dan sesekali menari tradisional. Sungguh sebuah suguhan pertunjukkan yang unik dan penuh kekayaan budaya dari searing presiden negeri jancukers yang baru saja mendaulat dirinya sebagai Don Tejo Corleoncuk.